Eko Rustanto

Mei 1, 2007

Samsung Besut Chip Flash 16 Gb Pertama di Dunia

Diarsipkan di bawah: Teknologi Informasi — soulheaven73 @ 10:06 am

Samsung Besut Chip Flash 16 Gb Pertama di Dunia
Lathiefa Nur Ilma – detikInet

Jakarta, Samsung Electronics, produsen chip memori terbesar dunia mengumumkan dimulainya pembuatan chip memori flash NAND berkapasitas 16 Gb (gigabit) secara massal. Langkah ini merupakan hal pertama di dunia yang pernah ada.

Chip ini dibuat dengan proses teknologi ultra-dense 51 nanometer (nm), sehingga berkat teknologi ini kapasitas disediakan merupakan yang tercepat. Dikutip detikINET dari Chosun berbahasa Inggris, Senin (30/4/2007), kelebihan chip NAND yaitu dapat menyimpan memori sekalipun dayanya telah dimatikan.

Untuk diketahui, 1 nm berarti satu per satu miliar meter, sehingga teknologi 51nm artinya sirkuit chip tersebut mampu menyusun garis elektronika setipis 1/2000 dari ketebalan rambut.

Samsung mengklaim chip baru ini dapat melakukan penulisan dan pembacaan hampir dua kali lebih cepat dari chip 60 nm yang digunakannya dalam pembuatan chip NAND 8Gb 8 bulan silam.

Sementara itu, Hynix Semiconductor minggu ini mengumumkan akan mulai memproduksi chip NAND 16Gb dengan teknologi 48 nm, pada akhir tahun ini.

Taklukkan Asia, Microsoft Harus ‘Peras Keringat’

Diarsipkan di bawah: Teknologi Informasi — soulheaven73 @ 10:04 am

Taklukkan Asia, Microsoft Harus ‘Peras Keringat’
Lathiefa Nur Ilma – detikInet

Jakarta, Analis menilai Microsoft masih harus memeras banyak ‘keringat’ jika ingin mendongkrak penjualan Windows Vista di pasar Asia.

Allan Krans, analis penelitian Technology Business Research (TBR) menyatakan bahwa Vista menawarkan peningkatan pada keamanan dan fungsionalitasnya, sistem operasi tersebut juga membutuhkan konfigurasi hardware yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan Windows XP.

Menurut Krans, harga dari prosesor dual-core, memori tambahan dan prosesor grafis mungkin tak menjadi hambatan bagi konsumen di kawasan Amerika atau Eropa, namun harga tersebut akan memiliki dampak besar bagi kawasan yang sedang berkembang seperti Cina.

TBR, dikutip detikINET dari ZDNET Asia, Selasa (1/5/2007), meyakini bahwa banyak konsumen Cina yang lebih memilih versi bajakan Vista yang hanya seharga US$ 1 atau sekitar Rp 9.082 (US$1 = Rp 9.082 sumber: detik.com) atau bahkan memilih Linux yang gratis. Walaupun Vista memiliki teknologi anti pembajakan, namun menurut laporan pers, salinan ilegal Vista tersedia luas di Cina.

Baru-baru ini, sebuah laporan media Jepang mengindikasikan Microsoft hanya mampu menjual 244 keping Vista legal di Cina dalam 2 minggu pertama sejak debutnya. Namun, dalam sebuah blog CNet News, laporan tersebut dibantah oleh Microsoft.

Microsoft juga melakukan beberapa tindakan, yang diungkap Krans, sebagai aksi untuk meningkatkan penjualan di kawasan berkembang dalam kuarter pertama. Contohnya, penjualan bundel software seharga US$ 3 atau sekitar Rp 27 ribu saja yang diperuntukkan bagi dunia pendidikan di negara-negara di kawasan sedang berkembang.

Menurut Krans, dari usaha tersebut, Microsoft takkan mampu menghasilkan pendapatan signifikan.

TBR juga meyakini Microsoft masih akan menghadapi tantangan untuk menyediakan model bisnis yang dapat digunakan untuk memanfaatkan pasar penjualan PC (Personal Computer) yang sedang berkembang di Asia Pasifik. Selain itu juga harus mencari cara untuk menyalurkan pasar tersebut menjadi pasar Microsoft.
(lni/dwn)

Lapisan Ozon Terus Berkurang tetapi Hair Spray Masih Digunakan

Diarsipkan di bawah: Kimia — soulheaven73 @ 9:56 am

Lapisan Ozon Terus Berkurang tetapi Hair Spray Masih Digunakan
Sumber: Suara Pembaruan, 26 Pebruari 2003

Coba tengok botol parfum atau hair spray yang Anda gunakan, apakah produk tersebut menggunakan propellant aerosol atau tidak? Jika ya, sebaiknya jangan Anda gunakan karena produk itu bisa merusak lapisan ozon.

Masalah menipisnya lapisan ozon di stratosfer sudah lama dibicarakan para ahli dan pemerhati lingkungan. Bahkan, berbagai kampanye lingkungan hidup yang berisi sosialisasi mengenai perlunya menjaga lapisan ozon telah pula dilakukan, tetapi masih banyak orang yang belum sadar betapa penting menjaga lapisan ozon itu agar tidak semakin parah.

Menurut Tri Widayati, dari Bidang Atmosfer Kementerian Lingkungan Hidup (LH), selain propellant berbagai senyawa kimia perusak ozon buatan manusia masih juga digunakan, seperti chloroflourcarbon (CFC), halon, metil bromida, dan lain-lain.

Selama bertahun-tahun, senyawa-senyawa kimia tersebut secara luas dipakai untuk berbagai keperluan, seperti sebagai media pendingin di lemari es, alat-alat pendingin ruangan (air conditioner/AC), sebagai blowing agent dalam proses pembuatan foam (busa), sebagai cairan pembersih (solvent), bahan aktif untuk pemadam kebakaran, bahan aktif untuk fumigasi di pergudangan, pra-pengapalan, dan karantina produk-produk pertanian dan kehutanan.

Senyawa-senyawa kimia tersebut dapat menyebabkan lapisan ozon tidak lagi mampu melindungi bumi terhadap radiasi ultra violet (UV) dari matahari. Setiap 10 persen penipisan lapisan ozon akan menyebabkan kenaikan radiasi UV sebesar 20 persen.

Kerusakan mata, meluasnya penyakit infeksi, dan peningkatan kasus kanker kulit adalah sebagian dari dampak yang akan timbul, jika lapisan ozon semakin menipis. Jika dibiarkan, radiasi UV tersebut juga akan menyebabkan vaksinasi terhadap sejumlah penyakit menjadi kurang efektif, dan akan memicu reaksi foto kimia yang menghasilkan asap beracun dan hujan asam.

Karena itu, kerusakan lapisan ozon tidak hanya membahayakan jiwa manusia, tetapi juga hewan, tanaman, dan bangunan.

Radiasi UV juga menurunkan kemampuan sejumlah organisme dalam menyerap CO2. CO2 sebagai salah satu gas rumah kaca, sehingga menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer akan meningkat dan terjadilah pemanasan global.

Untuk mengantisipasi kian parahnya lapisan ozon, dunia internasional pun sepakat mengurangi konsumsi bahan perusak lapisan ozon (BPO) termasuk CFC secara bertahap. Kesepakatan internasional yang diadakan di Wina, Austria pada 22 Maret 1985 dan pertemuan di Montreal, Kanada pada 16 September 1987 itu kemudian menghasilkan Konvensi Wina dan Protokol Montreal.

Menurut Deputi Bidang Pelestarian Lingkungan Kementerian LH, Dra Liana Bratasida, MS, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden No 23/1992 meratifikasi kedua perjanjian internasional tersebut.

“Dengan demikian, Indonesia berkewajiban ikut melaksanakan ketentuan dalam protokol tersebut. Yaitu mengembangkan program perlindungan lapisan ozon di tingkat nasional serta melaksanakan upaya penghapusan BPO secara bertahap sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.

Dalam pelaksanaan Konvensi Wina dan Protokol Montreal, Indonesia memperoleh bantuan dana dan teknis dari Multilateral Fund (MLF). Liana menjelaskan bantuan MLF itu sebagian besar disalurkan ke berbagai perusahaan yang dalam proses produksinya masih menggunakan bahan-bahan perusak ozon untuk digantikan dengan bahan-bahan penggantinya yang tidak merusak ozon.

“Total jumlah industri yang sudah kami bantu sejak 1994-2002 adalah 210 perusahaan. Terbagi dalam industri foam, refrigerant, halon, aerosol, solvent, dan industri tembakau. Industri tersebut tersebar di beberapa wilayah Indonesia,” kata dia.

Menurut Liana, pemerintah sendiri kini berupaya menggalakkan program insentif untuk mendukung industri yang bersedia menggunakan bahan-bahan pengganti yang tidak merusak ozon. Salah satunya dengan tidak memungut bayaran kepada setiap perusahaan yang bersedia menggunakan teknologi baru yang aman bagi ozon.

“Kami juga menyediakan tenaga ahli yang membantu mengoperasikan alat-alat tadi sampai mereka bisa mengoperasikan alat itu sendiri, semua kami berikan secara gratis,” ujar Liana.

Dijelaskan, ditargetkan pada 2007 seluruh industri di Indonesia sudah mengganti teknologinya dengan teknologi yang aman bagi ozon. “Dengan total hibah mencapai US$ 16 juta ,” ujarnya.

Pemerintah akan menyaring perusahaan-perusahaan yang akan mendapatkan program intensif tersebut. Penyaringan itu dilakukan oleh tim berdasarkan beberapa kriteria.

“Anggota tim yang menyaring tersebut tidak hanya dari Kantor Menteri LH tetapi juga dari World Bank, UNDP, dan UNIDO sebagai pemberi dana,” katanya.

Sedangkan untuk pelaksanaan Konvensi Perubahan Iklim negara-negara berkembang memperoleh bantuan dari Global Environment Facilities (GEF). Indonesia belum banyak memanfaatkan bantuan tersebut tetapi baru menyusun komunikasi nasional yang pertama. “Komunikasi Nasional tersebut terutama berisi tentang laporan hasil inventarisasi gas-gas rumah kaca di Indonesia,” jelas Liana.

Sementara untuk mengatasi permasalahan deposisi asam sejak tahun 1998 pemerintah Indonesia beserta negara-negara Asia yang lain bergabung dalam suatu jaringan yang disebut EANET (East Asia Network for Acid Deposition).

Fungsi EANET antara lain membantu secara teknis kepada anggota, termasuk pelaksanaan training dan berbagai pertemuan, melakukan kegiatan quality assurance dan quality control terhadap hasil pemantauan, dan mengumpulkan data hasil monitoring, dan lain-lain.

Dikatakan Liana, selain memberi insentif kepada perusahaan, kantor LH juga berupaya menyosialisasikan isu pentingnya perlindungan lapisan ozon, perubahan iklim, dan deposisi asam kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama di daerah.

“Hal itu sejalan dengan penerapan otonomi daerah. Dengan demikian pada saatnya nanti pemerintah daerah dan masyarakat di sanalah yang akan memperoleh manfaat dari pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Konvensi Wina dan Konvensi Perubahan Iklim,” jelasnya. Dia juga berharap pemerintah dan masyarakat di daerah dapat menangkap berbagai peluang yang timbul dari kedua konvensi dan protokol tersebut. Yaitu mengadakan proyek-proyek investasi yang disalurkan ke berbagai perusahaan untuk menggantikan teknologi dan konsumsi bahan-bahan perusak ozon. (YC/L-2)

PERALATAN TEKNOLOGI INFORMASI

Diarsipkan di bawah: Teknologi Informasi — soulheaven73 @ 9:52 am

PERALATAN
TEKNOLOGI INFORMASI


Perkembangan Teknologi Informasi sampai dengan saat ini berkembang dengan pesat seiring dengan penemuan dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dalam bidang Informasi dan Komunikasi sehingga mampu menciptakan alat-alat yang mendukung perkembangan Teknologi Informasi, mulai dari sistem komunikasi sampai dengan alat komunikasi yang searah maupun dua arah (interaktif).

SEJARAH TEKNOLOGI INFORMASI

Diarsipkan di bawah: Teknologi Informasi — soulheaven73 @ 9:50 am

SEJARAH
TEKNOLOGI INFORMASI


Perkembangan peradaban manusia diiringi dengan perkembangan cara penyampaian
informasi (yang selanjutnya dikenal dengan istilah Teknologi Informasi). Mulai dari gambar-gambar yang tak bermakna di dinding-dinding gua, peletakkan tonggak sejarah dalam bentuk prasasti sampai diperkenalkannya dunia arus informasi yang kemudian dikenal dengan nama INTERNET.
Informasi yang disampaikan pun berkembang. Dari sekedar menggambarkan keadaan sampai taktik bertempur.

Prinsip Kesehatan Cara Rosulullah SAW

Diarsipkan di bawah: Islam — soulheaven73 @ 9:46 am

Prinsip Kesehatan Cara Rosulullah SAW

Nabi Muhammad SAW lahir di daerah gersang, sangat rawan, dan kurang air. Selain itu saat lahir, suasana di sekitarnya penuh dengan kejahilan,kekejaman, penindasan, dan perbudakan. Setiap saat ada saja korbanpembunuhan bayi perempuan yang secara tradisi kaum Quraisy, dianggap hanyamerugikan serta mempermalukan orangtua saja.
Selain itu, perkembangan medis di Mekkah belum apa-apa. Sistim pengobatan pun masih bercampur antara ilmiah dan tahayul. Lebih- lebih sejak usia enam tahun ia sudah menyandang predikat yatim piatu, situasi yang umumnya bisa mempengaruhi tingkat kordinasi tubuh akibat perpecahan konsentrasi antara fisik dan psikis.

Namun semuanya tak menjadi kendala untuk menjaga kesehatan. Ia sadar,Allah sangat membenci manusia yang melalaikan, lebih-lebih sampai mengganggu, serta membuat bencana kesehatan. Jadi, menurutnya, kegiatanseperti berolahraga, menggosok gigi, dan menyisir rambut, termasuk ibadah,yang berarti memperoleh pahala.

Dengan kedisiplinannya itu, sehingga ia hanya sakit dua kali, tepatnya pertengahan hidup dan menjelang wafat. Itu pun hanya sebentar serta hampirtak merepotkan masyarakat, sesuai dengan prinsipnya yang tak mau merepotkansiapapun, lebih-lebih menyusahkan masyarakat.

Ini merupakan prestasi kondisi tubuh yang langka terjadi sampai kini,meskipun medis terus memperlihatkan perkembangan dan keperkasaan yangmenakjubkan, dengan resep dan terapi yang makin beragam. Para ilmuwan yangtiap hari bergelimang dengan urusan kesehatan, pun tak mampu menghindari sakit, malah menjelang wafat, tak mampu menangani sakit tanpa bantuan.

Banyak tokoh internasional, seperti Napoleon Bonaparte dan von Goethe,yang kagum terhadap kemampuannya menjaga kesehatan. Hanya dengan fasilitasyang serba sedikit, ia bisa menjaga kesehatan, dari rambut sampai telapak kaki, baik dalam maupun luar, dari tahun ke tahun.Apa saja kedisiplinan itu?

Perhatikan beberapa berikut ini :

Ia tak pernah minum sambil bernapas. Air yang diminumnya selalu dariwadah tertutup. Menurutnya, air dari wadah terbuka mudah dimasuki debu.

Dokter pun umumnya melarang kita minum dengan cara begitu. Karena selain akan menimbulkan batuk-batuk ringan, juga radang paru-paru. Meskipun tampak sepele, tetapi akibat dari itu, meskipun ringan bisa menjadi benih bagi radang tenggorokan serta membuat badan menjadi demam.

Ia tak mudah sugesti jika ada suatu kondisi yang menimpa tubuhnya.Karena baginya, itu tak memperlihatkan sikap sabar.Maksud sugesti di sini ialah menanggapi suatu situasi yang menimpa tubuh dengan perasaan.

Para ilmuwan (medis) umumnya mengakui, sugesti tentang suatu penyakit yang belum tentu menyerang, justru bisa mewujudkan penyakit itu dalampengertian yang sebenarnya.

Mungkin jika Louis Pasteur (pelopor vaksinasi umum), Alexander Fleming (penemu obat pencillin), dan Antony van Leewenhoek (pengamat bibitpenyakit) mengetahui semua itu akan geleng kepala. Soalnya mereka sering mengisyaratkan melalui pidato tentang tubuh yang gampang terkena penyakitjika hanya dibersihkan dengan beberapa liter air saja tiap hari. Ini mengingat hama mudah nempel pada kulit, lalu berkembang secara cepat.Mungkin mereka akan makin geleng kepala jika mengetahui bahwa ia sakit hanya dua kali saja.

Sebagai manusia, kepekaan fisiknya terhadap lingkungan sama saja dengan kita. Misalkan (yang cukup gamblang ialah sama-sama nggak tahan minum air100 derajat Celcius, sama-sama akan lesu jika menahan napas agak lama, dan sama-sama sakit serta memar jika dilempari batu besar.

Hanya saja ia bermental yang menakjubkan untuk mengendalikan fisik,sampai selama hidupnya hanya sakit dua kali. Ini perlu ditegaskan, agar jangan sampai mendatangkan kesan bahwa ia sangat jarang sakit karena manusia pilihan.

Ia selalu bangun menjelang fajar. Selesai sholat, tak tidur lagi,sebagaimana yang sering terjadi, tetapi terus mengucapkan dzikir, mengaji,serta mencari nafkah.

Bangun menjelang fajar memang lebih nyaman daripada bangun setelah terbit matahari, karena bisa membuat tubuh sehat, nyaman, dan bugar. Asal setelah sholat tak tidur lagi.

Sebab itu tak ada teori satu pun yang menyatakan, mereka yang telah bangun menjelang fajar boleh tidur lagi, kecuali untuk mereka yang mendapat penyakit tertentu serta memerlukan istirahat yang banyak. Malah ada ajaran adat Indonesia yang melarang tidur lagi setelah bangun menjelang fajar dengan argumentasi yang juga orsinil.

Ia makan sebelum lapar dan stop sebelum kenyang. Ia membuat makan untuk keperluan hidup, bukan membuat hidup untuk keperluan makan. Menurutnya, kita boleh makan apa saja, asal halal dan wajar.

Sebagaimana diketahui, saluran pencernaan seperti lambung, bersifat sensitif terhadap perubahan yang tak wajar pada saluran pencernaan akibat penyimpangan dalam mengatur makan serta tak sesuai dengan kondisi saluran pencernaan. Namun sayang, banyak sekali yang serampangan.

Karenanya tak perlu heran jika sangat banyak yang menderita saluran pencernaan. Kita bisa menanyakan kepada pasien tipus, kolera, dan disentri, misalnya, tentang mengapa mereka sakit ? Umumnya mereka akan menjawab, karena teledor dalam makan. Jadi benar apa yang dikatakan filosof bahwa makan itu bisa menjadi racun jika dihadapi dengan cara yang salah.

Ia jika marah tanpa emosi, meskipun dengan maksud positif. Karena baginya, itu tak memperlihatkan keihlasan dan kecintaan. Ia marah benar-benar “Lillahitaala”. Marahnya seperti marah seorang ayah terhadap anaknya yang bercanda dengan barang berbahaya tajam. Maksudnya, marahnya hanya tampak dari wajahnya, tetapi nuraninya memperlihatkan cinta kasih.

Dilihat dari psikologis, marah dengan emosi, seperti yang sering terjadi, bisa mempengaruhi fisik. Jika itu dilakukan terus, cepat atau lambat, bisa mendatangkan penyakit, seperti darah tinggi, rasa mual,gatal-gatal, dan sakit kepala. Sedangkan menurut catatan dari WHO, banyak paisen darah tinggi berlanjut dengan lumpuh yang populer dengan stroke,malah sampai mati secara dadakan.

Demikian beberapa contoh prinsip Nabi Muhammad dalam menjaga kesehatannya. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya untuk dipraktekkan dalam hidup sehari-hari serta bisa memberikan nilai tambah terhadap kualitas kesehatan kita. Semoga saja begitu. Amin ya Rabbil Alamin .

Copyright © 2006 by Majelis Dzikir Tawakal, Design and Maintained by Agung & BP

Benang Laba-laba dari Susu Kambing

Diarsipkan di bawah: Kimia — soulheaven73 @ 9:42 am

Benang Laba-laba dari Susu Kambing
Oleh Soetrisno

Sudah menonton film Spiderman? Kita mungkin terheran-heran ketika Spiderman mampu mengayun dari satu gedung ke gedung lain hanya dengan seutas benang laba-laba. Mungkin kita berpikir itu hanyalah sebuah sebuah animasi atau khayalan semata, tetapi dalam waktu dekat dengan penelitian di bidang bioteknologi dan kimia material dapat membuat ‘benang spiderman’ ini menjadi kenyataan,

Benang sutra laba-laba merupakan suatu jaringan serat yang sangat ringan dan kekuatan serta kelenturannya jauh melebihi Kevlar – serat sintesis terkuat yang ada saat ini buatan perusahaan DuPont -. Kekuatan benang sutra ini bahkan mampu menahan peluru yang ditembakkan tanpa menyakiti orang yang memakainya sebagai baju anti peluru, Pada tahun 1990 suatu penelitian militer mengindetifikasi dua gen laba-laba yang mampu membuat serat protein berkekuatan tinggi. Untuk memproduksi secara massal, protein serat ini di-kloning-kan ke bakteri. Namun, hasil serat protein yang didapat dari hasil kloning ternyata masih jauh dari harapan dan banyak kekurangannya.

Pada Januari tahun 2002, suatu grup penelitian mempublikasikan bahwa mereka berhasil mengekstraksikan serat protein tersebut dari susu binatang mamaliayaitu kambing. Penelitian ini merupakan proyek penelitian dari Perusahaan Kanada Nexia Biotechnologies bekerjasama dengan Militer Amerika dan dipublikasikan di Jurnal Science. Grup penelitian ini memasukkan gen dari benang laba-laba ke dalam sel mamalia dan berhasil mengekstraksikan susu dari mamalia tersebut untuk mendapat serat yang struktur dan karakteristiknya mirip dengan benang laba-laba.

Gambar permukaan dari serat protein dari ekstraksi susu kambing yang telah diklon gene dari laba-laba (Science)

Serat yang dihasilkan berdiameter 0.02 milimeter dan walau hasil pengukuran elastisitasnya masih dibawah benang laba-laba namun kekuatannya jauh melebihi besi maupun Kevlar -serat sintesis yang dipakai untuk baju astronot ruang angkasa-. Hasil penelitian ini mendorong penelitian-penelitian lainnya di bidang kimia material untuk memanfaatkan serat protein ini di berbagai bidang misalnya di dunia kedokteran (benang operasi), olahraga (raket tenis), militer (baju anti peluru), antariksa (bahan tahan panas).

Saat ini ratusan kambing yang telah di-kloning oleh genetik laba-laba ini sedang dikembangbiakkan di Amerika maupun Kanada dan diharapkan serat protein ini dapat menjadi material baru di bidang industri. Penemuan ini merupakan suatu harapan baru di dunia material karena produk benang laba-laba inj dapat terurai secara alami setelah tidak digunakaan lagi sehingga produk ini merupakan produk yang sangat akrab dengan lingkungan. [SS]

Dari berbagai sumber
Referensi lainnya dapat dilihat di Jurnal Science, Chemistry highlights 2002

4 Perkara Sebelum Tidur

Diarsipkan di bawah: Islam — soulheaven73 @ 9:34 am

4 Perkara Sebelum Tidur

Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : “Ya Aisyah janganlah engkau tidur sebelum melakukan empat perkara, yaitu :
1.Sebelum khatam Al Qur’an,
2.Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir,
3.Sebelum para muslim meridloi kamu,
4.Sebelum kaulaksanakan haji dan umroh….

“Bertanya Aisyah :
“Ya Rasulullah…. Bagaimana aku dapat melaksanakan empat
perkara seketika?”

Rasul tersenyum dan bersabda :

“Jika engkau tidur bacalah : Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur’an. Membacalah sholawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka
kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat. Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredloi kamu. Dan,perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh”.

( Tafsir Haqqi )

Teh, Minuman Penuh Manfaat

Diarsipkan di bawah: Kimia — soulheaven73 @ 9:31 am

Teh, Minuman Penuh Manfaat
Sumber: Kompas, 2 April 2002

Manfaat dan khasiat daun teh umumnya terfokus pada teh hijau asal Jepang. Soalnya ada hasil penelitian yang menunjukkan, penduduk di kawasan Shizuoka-dikenal sebagai peminum teh hijau terbanyak di Jepang dan sejak zaman nenek moyangnya memang doyan teh hijau-ternyata rendah sekali angka kematiannya akibat penyakit berbahaya seperti kanker dan jantung. Angka ini jauh lebih rendah dibanding penduduk kota-kota lain yang bukan peminum teh hijau.
Tidak aneh bila kebiasaan minum teh hijau ini menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Masyarakat Indonesia sendiri sebenarnya juga punya sejarah panjang minum teh, meski jenisnya lain dengan teh hijau Jepang.

Untunglah kemudian diketahui, bahwa tidak hanya teh hijau yang punya khasiat terhadap kesehatan. Hampir semua jenis teh ternyata berperan besar terhadap kebugaran dan kesehatan peminumnya. Para ahli yang meneliti daun teh sepakat, teh mengandung senyawa-senyawa bermanfaat seperti polifenol, theofilin, flavonoid/ metixantin, tanin, vitamin C dan E, catechin, serta sejumlah mineral seperti Zn, Se, Mo, Ge, Mg.

Semua itu tidak hanya berguna sebagai zat antimutagenik dan antikanker, mengobati gangguan saluran pencernaan, serta membantu menetralkan lemak dalam makanan, tetapi juga mencegah oksidasi lemak densitas rendah yang bisa menjadi plak, menurunkan kolesterol darah, menyegarkan pernapasan, dan merangsang batang otak.

Seperti yang diuraikan Prof Senji Sakanaka dari Jepang, pada penduduk Shizuoka jarang dijumpai kasus-kasus kanker dan jantung. Bahkan, mereka pun bisa mencapai usia di atas 80 tahun dan tetap bugar.

Zat flavonoid yang ada dalam daun teh, memang berfungsi sebagai penangkal radikal bebas yang mengacaukan keseimbangan tubuh dan menjadi salah satu pemicu kanker. Selain itu kehadiran polifenol, theofilin, dan senyawa lainnya di daun teh membantu menghambat perkembangan virus ataupun kelainan faat yang menimbulkan kanker.

Prof Itaro Oguni dari Jepang, dalam salah satu ceramahnya di ITB menyebutkan, hasil percobaan laboratorium yang dilakukannya makin menunjukkan khasiat teh ini terhadap kanker. Penambahan ekstrak daun teh telah menghambat pertumbuhan sarcoma 180 yang merupakan penyebab kanker. Pemberian ekstrak daun teh secara oral pada hewan percobaan juga menghambat pertumbuhan karsinoma pada esofagus dan lambung secara meyakinkan.

Tidak heran bila angka kematian penduduk Shizuoka karena kanker perut, lebih rendah dibanding kawasan lainnya. Seperti diketahui, kanker perut adalah penyebab kematian yang cukup tinggi di Jepang.

Namun, untuk mendapatkan khasiatnya, teh harus diminum dengan takaran yang tepat. Teh harus diseduh dengan kekentalan yang cukup, yaitu satu bungkus teh celup untuk satu cangkir. Kalau kadar teh terlalu sedikit, maka manfaatnya akan sedikit pula.

Sekilas Sejarah Wali Jawa (Walisongo)

Diarsipkan di bawah: Islam — soulheaven73 @ 9:30 am

Sekilas Sejarah Wali Jawa (Walisongo)

Walisongo” berarti sembilan orang wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan.

Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid. Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.

Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan. Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu.

Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.

Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha .

Maulana Malik Ibrahim (Wafat 1419)
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi. Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.

Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya. Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.

Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya. Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.

Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.

Sunan Ampel
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang).

Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya. Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M. Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren.

Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura. Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.” Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

Sunan Bonang
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban.

Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar.

Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit. Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban.

Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat ‘cinta’(‘isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga.

Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah “Suluk Wijil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).

Sunan Kalijaga
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.

Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak

Sunan Gunung Jati
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii). Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina. Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara.

Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati. Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.

Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah. Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.

Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.

Sunan Kudus
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul.

Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.

Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.

Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.

Sunan Muria
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.

Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti .

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.