SYUKUR NIKMAT

SYUKUR NIKMAT

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?”
(Q.S. An Nisa’147)

 Makna Syukur Nikmat

Syukur secara bahasa, makna syukur adalah “berterima kasih”. Menurut istilah, syukur adalah memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita berupa perbuatan ma’ruf, dalam pengertian tunduk dan berserah diri kepada-Nya.

 Pentingnya Syukur Nikmat

1. Syukur adalah wasiat pertama yang disampaikan Allah Swt. Kepada manusia. Setelah manusia mampu berpikir, Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orang tuanya (31:14, 2:172, 17:3, 27:19).
2. Allah memberikan pujian kepada hamba-Nya yang tidak pernah lalai dalam mensyukuri nikmat-Nya (6:53, 3:145).
3. Akan menambah kuatnya iman dan kenikmatan (14:7)
4. Allah tidak akan menyiksa orang-orang mukmin yang senantiasa bersyukur (4:147).
5. Allah tidak menyukai orang yang mengufuri nikmat dan mencela orang-orang yang tidak pandai mensyukuri nikmat (2:152, 100:6, 76:3-4).

“Hendaklah tiap orang dari kalian berhati yang bersyukur dan lisan yang selalu mengingat.” (H.R. Turmudzi dan Ibnu Majah)

Sesungguhnya Allah ridha kepada seorang hamba yang setiap makan dan minumnya memuji Allah (atas karunia yang diberikan Allah kepadanya).

 Cara Bersyukur

1. Syukur yang dilakukan dengan hati (syukur qalbi).
Yaitu mengakui nikmat-nikmat Allah dan mencintainya. “Mengingat kenikmatan akan berpengaruh (membekas) pada kecintaannya kepada Allah Azza wa Jalla.” (HR. Abu Sulaiman Al Washiti)
2. Syukur yang dilakukan oleh lisan (syukur lisan)
Yaitu memuji kepada-Nya dan atas anugerah yang dilimpahkan-Nya (93:11). Selain itu, mempunyai kesadaran untuk menyatakan bahwa nikmat itu datang hanya dari sisi Allah (16:53)
3. Syukur yang dilakukan oleh anggota badan (syukur jawarih)
Yaitu dengan menggunakan anggota tubuh melakukan aktivitas dalam rangka tuduk kepada-Nya yang ditujukan hanya untuk memperoleh keridhaan-Nya. Juga dengan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan serta memperhambakan dan menundukkan kenikmatan yang dilimpahka Allah untuk menaati-Nya dan memperoleh keridhaan-Nya.
Bersyukur kepada Allah harus tercermin dalam hati, lisan dan anggota tubuh, karena dengan hati itulah kita merasakan, mengetahui, menyambut dan membicarakan nikmat-nikmat Allah.

 Nikmat Bisa Berubah Menjadi Naqmah (Siksaan)

Nikmat bisa menjadi naqmah karena berbagai perkara, antara lain :
1. Jika kita melakukan kemaksiatan dan berbuat dosa, yaitu membalas nikmat Allah dengan hal-hal yang dimurkai-Nya (30:41, 4:39).
“Seorang hamba pada hari kiamat tiada melangkah kedua kakinya, sehingga ditanyakan kepadanya empat perkara, yaitu tentang umurnya dihabiskannya untuk apa, tentang ilmunya diamalkan untuk apa, tentang hartanya dari mana diperolehnya dan untuk kepentingan apa dihabiskan, serta masa muda dihabiskan untuk apa.” (HR. Turmudzi).
2. Meyakini bahwa wnugerah yang dimilikinya bukan dari Allah tapi atas usahanya sendiri atau dari selain Allah (28:76, 16:53-54,84).
3. Sikap sombong, merasa diri lebih mampu dari orang lain sehingga ia mencela orang lain dan menbangga-banggakan apa yang dimilikinya; baik harta, sawah, ladang, ilmu, atau kedudukan (104:1-3).
4. Tidak menunaikan hak-hak Allah.
Bila kita memiliki ilmu walaupun sedikit, hendaklah tetap kita ajarkan kepada orang lain. Bila kita mempunyai harta walaupun sedikit hendaknya kita infakkan, karena dalam harta itu ada hak-hak orang lain (70:24-25).

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: