Bursa Penempur Mancanegara

Lima belas tahun ke depan, dunia akan ditaburi 5.000 pesawat tempur. Nilai ini setara dengan 15-20 persen dari kontrak pembelian alat-alat perang. Jumlahnya, 170 milyar dollar AS!

F-35 produksi Lockheed Martin/Foto: Lockheed Martin

Ketegangan berkelanjutan di wilayah Kashmir yang menjurus ke perang terbuka antara India dan Pakistan, tampaknya telah memaksa kedua negara bertetangga itu untuk terus memperkuat elemen tempurnya.

Angkatan Udara (AU) India menurut Flight International (27 November3 Desember 2001), saat ini diperkirakan mengoperasikan hampir 2.000 pesawat. Sekitar 700 merupakan pesawat tempur dari berbagai jenis MiG-29A/UB, Jaguar IS/IB/M, Mirage 2000H/TH, MiG-27M, MiG-23BN/UM/MF, MiG-21bis/M/FL/U, serta MiG-25.

AU Pakistan yang sempat bermasalah dengan Amerika Serikat (AS) ulah ujicoba nuklir yang digelar pada 1998 karena itu kena sangsi embargo AS tapi diperlonggar sejak Pakistan merelakan landasannya didarati pesawat AS saat menggelar Operasi Enduring Freedom di Afghansitan sepertinya akan memperoleh 71 F-16 Fighting Falcon senilai 1,7 miliar dollar. Selengkapnya, AU Pakistan mengoperasikan 700-an pesawat di mana 400 diantaranya penempur.

India sebagaimana ditulis AirForces Monthly (30/3/2002) yang menjadi acuan utama tulisan ini, disebut memesan 50 Su-30 MKI pada akhir 1990 pesawat sejenis yang pernah dipesan TNI AU dimana 140 pesawat lagi akan dibangun di India dengan lisensi. India menyadari, armadanya yang mulai menua sangat mendesak untuk diganti, seperti 90 Jaguar, 40 Mirage 2000, serta 70 jet latih lanjut ditambah 200 latih dasar.

Tentu selain geliat meremajakan armada-armada tempurnya, gigihnya upaya kedua negara mengembangkan senjata nuklir dan pemusnah massal (mass destruction weapon), menjadi catatan lain yang patut dicermati. Para ilmuwan dan kelompok pemantau senjata dunia, memperkirakan arsenal nuklir Pakistan sudah mencapai 20-an bom nuklir. Sementara seterunya, India, memiliki antara 55 110 bom nuklir (Kompas, 11/1/2002).

Lipatganda armada

Viggen produksi Saab Gripen/Foto: Saab Gripen

Sudah menjadi teori, negara yang berada dalam keadaan terancam atau sebaliknya berpotensi mengancam (threatening), cenderung memperkuat angkatan perangnya. Bukan bermaksud memprovokasi, tentu, kita bisa lihat ambisi Singapura menambah 20 F-16 Block 52, AH-64D Apache “Longbow”, serta keinginan berpartisipasi dalam proyek triliunan rupiah penempur masa depan F-35 yang dimenangkan Lockheed Martin.

Hal yang sama juga bisa dilihat dari Taiwan yang akan mengakuisisi 60 Mirage 2000-5, serta tengah menjajaki pengadaan penempur generasi kelima diantara pilihan F-22, Eurofighter Typhoon, atau Rafale. Cina sebagai saudara tua Taiwan, dalam jangka waktu panjang akan melipatgandakan armadanya dengan 2.000 penempur baru.

Satu hal lagi kalau bisa disebut dampak positif negara berseteru, adalah tumbuh suburnya industri pendukung militer. Cina belum lama ini sukses menerbangkan pesawat serba guna Chengdu J-10/F-10, yang disebut bakal menggantikan J-6, Q-5, dan J-5. Cina dan India juga disanjung-sanjung sebagai dewa penyelamat bagi program MiG 1.42 dan S-37. Sementara AS untuk jangka panjang (2026), tetap membutuhkan 3.700 penempur macam Super Hornet, F-22, dan F-35 menyusul dipensiunkannya penempur berat F-14 Tomcat. Menarik juga disampaikan bahwa Cina, India, dan Korea Selatan akan menjadi pembeli terbesar di Asia Pasifik, sementara Uni Emirate Arab di Timur Tengah disamping pembeli potensial setia, Arab Saudi.

Indonesia?

Didera krisis ekonomi berkepanjangan dan diperparah pemberlakuan embargo oleh AS, membuat daya beli Indonesia menurun drastis dalam bursa alat-alat perang dunia. Majalah AirForces pun, sebagai contoh konkrit, hanya menorehkan lewat 10 baris tulisan dalam tujuh halaman feature-nya di bawah judul “Fighter Boom”. Di dalam negeri pun menjadi kontradiktif akan kebutuhan mencari tambahan/pendamping 11 F-16A/B yang tiba pada akhir 1989. AS pernah menawarkan 9 F-16 eks Pakistan yang akhirnya ditolak, serta urungnya pengadaan satu skadron Su-30KI menyusul krisis ekonomi. Beberapa pengamat militer dalam negeri malah lebih cenderung menyarankan TNI AU mengoperasikan pesawat-pesawat tempur generasi ketiga seperti OV-10 Bronco atau Pucara. Alasannya dengan melihat konflik internal yang membutuhkan kemampuan counter-insurgency (COIN) disamping fungsi pertahanan nasional terbatas. Bukankah perdamaian hanya terpisah satu langkah dengan peperangan? Si vis pacem parabellum, jika ingin damai siapkan perang.(ben)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: