SENAPAN SERBU TERPOPULER DI DUNIA

Sejak Perang Dunia I, bentuk dan profil senapan serbu terus-menerus disempurnakan. Para pembuatnya punya kriteria dan penafsiran sendiri. Apa pun itu, paling tidak kini ada dua yang paling digemari: M16 dan AK-47. Berikut profil mesin pembunuh AK-47 yang telah dibuat 70 juta pucuk di lebih dari 55 negara.

Di antara pasukan Indonesia yang menggunakan AK adalah Tontaipur Kostrad/Foto: Angkasa/D.N. Yusuf

Setelah lebih dari 80 tahun mendampingi prajurit sebagai peralatan perang, kini ratusan versi senapan serbu bisa ditemui di dunia. Keandalan dan keakuratan adalah dua kriteria penentu kehebatannya. Orang mungkin akan terperangah dengan letalnya si canggih CZ 2000 (pertama dikenalkan 1993), Famas (1977), Heckler & Koch G36 (1997), Galil (1980-an), dan OICW (diluncurkan 2004-7). Akan tetapi, banyak yang mengakui, dari segi popularitas belum ada yang bisa menandingi AK-47.

Walaupun dibuat di tengah kenestapaan penciptanya, AK-47 adalah legenda. Meskipun tak terlalu akurat, ia juga bak memancarkan kharisma. Pasalnya, senapan serbu ini tak saja hanya bisa ditemui di berbagai medan konflik kecil, tapi juga dipakai hingga di ajang perang bergengsi. Ketika AB AS sudah dengan geramnya “mengurung” Afghanistan dengan berbagai persenjataan canggih setahun lalu, nyali pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, malah sedikit pun tak terusik. AKS74U (varian AK-47) tampak selalu terlihat di sampingnya. Tayangan yang disiarkan stasiun TV Al Jazeraa ini sudah cukup menggambarkan profil ketangguhan sebuah Kalashnikov.

AK-47 memang merupakan sentral kisah keras yang tiada habis-habisnya. Selain versi standar AK-47, dunia juga mengenal varian lainnya seperti AKM (Automat Kalashnikov Modernizirovannity), RPK (Ruchnoi Pulemet Kalashnikov), dan AK-74. Bagi para infanteri, sihir Kalashnikov sudah bisa teridentifikasi dari jauh lewat suaranya. Dentingan metal dan letupan pelurunya amat khas dibanding senapan serbu buatan Barat. Karena telah mendesing sejak 1947 di banyak medan pertempuran, suara hentakan pemukul pelurunya bagaimana pun telah menjadi momok bagi para prajurit Barat.

Dari berbagai variasi, sampai saat ini diperkirakan sudah lebih dari 70 juta pucuk AK dibuat di berbagai negara (dengan lisensi) dan dipakai 55 negara. Enam dari negara-negara tersebut bahkan telah memakainya sebagai lambang negara atau lambang angkatan bersenjata.

Tangguh dan bandel

Akan tetapi, percaya atau tidak, kisah senapan serbu terpopuler di dunia ini justru tidak berasal dari perancang senapan “sungguhan”. Penciptanya adalah seorang komandan tank muda AB Rusia. Namanya Mikhail Timofeevich Kalashnikov. Embrio senapan ini ia ciptakan ketika dirinya tengah menunggu kesembuhan dari luka parah dalam pertempuran melawan Jerman di Bryansk. Kejadiannya kira-kira di tengah berkecamuknya Perang Dunia II pada tahun 1941.

Dalam proses penyembuhannya yang berjalan lambat, hampir enam bulan, pertama-tama ia isi waktunya untuk merancang submachine gun yang mudah diproduksi dan murah. Begitu prototipnya selesai dan dievaluasi Biro Persenjataan Uni Soviet (BPUS), sayang senjata ini dinilai tidak cukup baik untuk diproduksi.

Walau begitu, BPUS amat terkesan dengan bakat Kalashnikov. Sebagai penghargaan, ia diangkat menjadi ahli senjata api. Ia kemudian ditempatkan di Izhmazh, pabrik senjata di kota Izhevsk, Udmurt, Kazakhstan, sekitar 1.130 kilometer dari Moskow.

Beberapa waktu di Izhmazh, ia terlibat dalam proyek pembuatan senjata serbu yang formatnya diambil senapan serbu Jerman. Ketika itu, pada 1943, AB Rusia berhasil menyita pegangan Nazi Jerman yang terhitung senapan serbu pertama di dunia. Itu adalah MKb42 (Walter and Haenel), MP43 (Haenel/Schmeisser), dan MP44 (Haenel, Mauser, and Erma), yang selanjutnya diubah namanya oleh Hitler menjadi StGw (Sturm Gewehr) 44. Sturm Gewehr artinya adalah senapan serbu. Senapan-senapan yang jauh lebih unggul dari andalan AB Rusia ini menggunakan peluru ukuran menengah (intermediate cartridge) kaliber 7,92 mm Kurz (pendek) atau 7,92 x 33 mm. Senapan-senapan ini kemudian dievaluasi.

Tanpa membuang-buang waktu, BPUS segera mengembangkan peluru ukuran menengah mereka, yakni 7,62 x 39 mm M43. Pada tahun 1947, AB Rusia resmi mengadopsi senapan serbu rancangan MT Kalashnikov yang selanjutnya diberi nama Avtomat Kalashnikov obrazets 1947g. Kelewat panjang, namanya kemudian cukup disingkat AK-47. Senapan inilah yang kemudian diadopsi sebagai senapan serbu standar pertama AB Rusia.

Dengan 70 juta pucuk, dipakai 55 negara, enam negara menggunakannya sebagai lambang negara, dan lisensinya diadopsi 15 negara. Untuk itu tak terelakkan jika Kalashnikov dianugerahi berbagai penghargaan dan tanda jasa. Di antaranya, adalah Stalin Prize First Class (1949), Hero of Socialist Labour (1958/76), Lenin Prize (1964), Order of the Great Patriotic War of the First Class, Order of the Red Star, dan Order for Distinguished Services for the Motherland Second Class. Selanjutnya, selain diberi gelar doktor ilmu enjiniring (1971), Kremlin juga menganugerahi pangkat Mayor Jenderal AD Rusia (kehormatan) di ulang tahunnya yang ke-75. Sebuah anugerah yang tentunya luar biasa bagi seorang anak petani biasa kelahiran Desa Kurya, di wilayah Altai, 10 November 1919.

Lalu apa yang membuat senapan ciptaannya begitu dikagumi? Seperti diakui pemakainya, AK-47 amat tangguh. Pemeliharaannya tak sulit, daya tahannya hebat, dan bisa dipakai sampai ke medan tempur yang amat keras. Mirip MP 43/44, juga tak ada bagianAK-47 yang benar-benar revolusioner sehingga pembuatan dan pemasangannya dijamin sangat mudah. Inilah yang kemudian membuat banyak negara tertarik untuk mendapatkan lisensi pembuatannya.

“Harus diakui senapan ini memang bandel. Sekalipun sudah terendam air dan masuk lumpur, ia masih berfungsi. Sampai dengan 10 magasin ditembakkan, ujung larasnya pun masih tetap kokoh. Lain dengan senapan lain pegangan kami. Tak sampai 10 magasin, kalau tidak pecah, ujung larasnya akan membengkok,” ujar Sertu Mardijanto dan Sertu Laksono, anggota Polisi Udara yang sudah bertahun-tahun menggunakan AK-47. Sebagai catatan, setiap magasin maksimal memuat 30 peluru 7,62 x 39 mm.

600 peluru per menit

Polisi Udara juga menggunakan senjata AK/Foto: Angkasa/D.N. Yusuf

Secara teknis, AK-47 adalah senapan yang digerakan oleh tekanan gas. Ketika peluru ditembakkan, gas atau tekanan udara akibat ledakan mesiu yang mendorongnya akan tersalur balik ke arah badan senapan melalui lubang kecil sekitar 10 sentimeter dari ujung laras. Sentakan gas ini sebagian disalurkan ke atas laras melalui sebuah pembuluh untuk mendorong piston ke belakang. Sentakan balik inilah yang kemudian menggerakan secara simultan mekanik senapan. Sentakan otomatis ini di antaranya menggerakan palu pemukul peluru, pendorong kelongsong peluru (keluar), dan penaruh peluru baru dari magasin. Tak kurang pentingnya dalam proses peletupan peluru ini adalah pegas atau per yang tekanannya membantu menghentakan silinder piston.

Sebagaimana senapan serbu umumnya, AK-47 juga dilengkapi selektor penembakan. Pilahannya adalah: kunci pengaman, tembakan otomatis (auto), dan semi otomatis (semi auto). Ketika diset semi otomatis, yang terjadi mungkin sama saja dengan kinerja senapan serbu lainnya. Peluru akan ditembakan satu per satu sesuai dengan frekuensi ditariknya pelatuk.

Lain halnya ketika selektor diset ke otomatis. Teoretis, maksimal kecepatan AK-47 memuntahkan peluru bisa mencapai 600 peluru per menit. Profil ideal seperti ini tentunya hanya bisa dilakukan pada kondisi yang telah dipersiapkan sebaik mungkin. Namun, dalam kondisi tempur, 90 peluru per menit pada “auto” sudah merupakan profil menarik dari senapan ini. Apalagi jika melihat, usai penembakan, struktur metal laras masih tetap kokoh.

Kedahsyatan AK-47 sendiri tidak saja terletak pada faktor kecepatannya memuntahkan peluru. Keunggulan senapan ini juga bisa dilihat dari jenis peluru berkekuatan sedang yang digunakan. Dengan ukuran atau kaliber 7,62 x 39 mm, ia selanjutnya akan dikenal sebagai senapan “yang lebih ringan” dan “lebih stabil untuk jarak jangkau sampai dengan 400 meter” ketimbang senapan standar lainnya. Kenyataannya, keunggulan inilah yang juga sering diperbincangkan para prajurit penyandangnya. Hal ini mudah dimaklumi mengingat kebanyakan prajurit biasanya terjun bertempur melawan musuh hanya dalam jarak tak lebih dari 200 meter.

Berdasarkan beberapa literatur bahkan nyaris tak ada kekurangannya. Kalau pun ada kerusakan yang bisa membuatnya gagal, mestinya menyangkut saluran gas yang ada di atas laras senapan. Jika saja saluran ini rusak, tekanan akan terbagi tak merata, dan tembakan akan pincang. Kalau hal ini terjadi terus-menerus, panas yang ditimbulkan oleh ledakan peluru pun akan menjadi tak terbuang sempurna sehingga senapan menjadi lebih mudah panas.

Kini, selain di Rusia, dalam berbagai model AK-47 juga dibuat di Cina, Polandia, Jerman, Bulgaria, Hungaria, Yugoslavia (M70/77), Rumania, Vietnam Utara, Mesir, India, dan Korea Utara. Variasinya terlalu banyak untuk diceritakan di sini. Namun yang jelas Finlandia (M62/M70), Israel (Galil), dan Afrika Selatan telah membuat menurut kebutuhan dan seleranya sendiri. Gubahan Finlandia, misalnya, dikenal sebagai M62; versi Israel dengan Galil-nya; dan dari Afrika Selatan dengan kode R4.

Pada tahun 1994, AB Rusia secara resmi mengadopsi senapan serbu baru bernama AN94 (Automat Nikonov) ABAKAN. Akan tetapi, dengan berakhirnya Perang Dingin dan kala kesulitan ekonomi melilit negara ini, penggantian AK-47 dengan AN94 serta-merta tidak lagi menjadi prioritas utama sehingga berjalan lambat. Dengan demikian, sampai saat ini AK-74 dan variannya masih tetap menjadi mayoritas senapan serbu AB Rusia.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: