Analisa Fundamental

Pergerakan naik turunnya harga yang terjadi didalam foreign exchange dipengaruhi oleh banyak faktor akan tetapi faktor- faktor tersebut dapat dibagi atas 2 klasifikasi yaitu pengaruh fundamental dan pengaruh teknikal. Analisa Fundamental merupakan analisis yang didasarkan atas perkembangan ekonomi maupun politik termasuk juga rumors pasar serta perubahan iklim serta cuaca
Analisa teknikal merupakan analisis yang didasarkan pada perhitungan-perhitungan secara statistika. Sehingga secara teori dapat dikatakan bahwa : Analisis fundamental memberi pengaruh kepada trend perubahan harga (arah dari harga suatu mata uang secara keseluruhan) sedangkan analisis teknikal berpengaruh kepada pergerakan naik turunnya harga dalam suatu trend harga.
Analisa Fundamental sendiri lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah (otoritas moneter) ataupun data-data yang dirilis oleh berbagai sumber maupun berita-berita tertentu yang belum pasti kebenarannya (market sentiment and market rumors). (based on news).
Dalam perdagangan forex sangat sering kita dengarkan terjadinya intervensi (campur tangan) dari pihak pemerintah. Hal ini dikarenakan pemerintah sangat berkepentingan untuk menstabilkan mata uang agar tidak terlalu kuat maupun terlalu lemah. Sehingga dapat juga dikatakan bahwa analisa fundamental untuk transaksi jangka panjang ( long term trade). Analisa Teknikal : Analisa ini dibuat berdasarkan hitungan2 yang bersifat matematis dan statistis, Pada umumnya analisis ini dibuat berdasarkan harga
yang telah terjadi (based on price) untuk memprediksikan harga yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Tujuan pemerintah melakukan intervensi dibidang moneter(keuangan) untuk menstabilkan mata uang. Intervensi ini dilakukan melalui hal – hal yang bersifat kebijakan (policy). Kebijakan tersebut dapat terbagi atas:
1. Kebijakan moneter , dilakukan oleh pemerintah melalui otoritas moneter pada umumnya dilakukan oleh Bank Sentral
2. Kebijakan Fiskal , dilakukan oleh pemerintah melalui Otoritas fiskal pada umumnya dilakukan oleh otoritas keuangan
Kebijakan moneter
Kebijakan moneter ada berbagai macam antara lain:
1. Interest Rate (Tingkat Suku bunga)
2. Reserve Requirement (tingkat Cadangan Bank Umum)
3. Apresiasi dan Depresiasi
Kebijakan yang paling terkenal adalah interest rate ( suku bunga) karena secara jangka pendek interest rate berpengaruh secara sangat cepat dan efektif untuk menguatkan ataupun melemahkan mata uang karena pengaruhnya tidak hanya terkonsentrasi pada money market (pasar uang) tetapi juga memiliki pengaruh yang sangat cepat terhadap capital market (Pasar Modal) terutama pasar obligasi pemerintah maupun obligasi perusahaan . Kebijakan tingkat suku bunga juga sangat efektif digunakan untuk mengurangi sekaligus menurunkan tingkat inflasi secara cepat dalam jangka waktu yang pendek ataupun sebaliknya.

Mekanismenya adalah sebagai berikut :
Jika interest rate (i) naik maka: jumlah uang yang diserap oleh bank akibat dari kenaikan tingkat suku bunga tersebut akan semakin besar (masyarakat akan lebih senang untuk menabung di bank daripada membuka bisnis baru). Disisi lain bank umum juga akan menaikkan tingkat suku bunga pinjaman kepada masyarakat sehingga masyarakat mengurangi minatnya untuk meminjam uang,
Semakin besar jumlah uang yang diserap oleh bank umum dan semakin sedikitnya jumlah uang yang dipinjam oleh masyarakat maka jumlah uang yang beredar akan semakin sedikit , jika jumlah uang yang beredar semakin sedikit maka permintaan akan mata uang tersebut akan semakin tinggi , jika permintaan semakin tinggi maka nilai mata uang akan semakin menguat (Ceteris Paribus) INTEREST RATE naik >>> (Money Supply < Money Demand) >>> Currency menguat (CP)
Jika interest rate turun (i) maka : jumlah uang yang diserap oleh bank akibat dari kenaikan tingkat suku bunga tersebut akan semakin kecil (masyarakat akan lebih senang untuk membuka bisnis baru daripada menabung di bank). Disisi lain bank umum juga akan menurunkan tingkat suku bunga pinjaman kepada masyarakat sehingga masyarakat meningkatkan minatnya untuk meminjam uang, Semakin besar jumlah uang yang diserap oleh bank umum dan semakin banyaknyanya jumlah uang yang dipinjam oleh masyarakat maka jumlah uang yang beredar akan semakin banyak , jika jumlah uang yang beredar semakin banyak maka permintaan akan mata uang tersebut akan semakin tinggi , jika permintaan semakin rendah maka nilai mata uang akan semakin melemah (Ceteris Paribus)
INTEREST RATE turun >>> (Money Supply > Money Demand) >>> Currency Melemah (CP)

CATERIS PARIBUS
maksudnya adalah teori tersebut kebenarannya akan sangat signifikan bial halhal lain bersifat tetap seperti : tidak terjadi kerusuhan atau bencana alam atau tidak terjadi kenaikan harga minyak ( barometer ekonomi modern) tidak melambung terlalu tinggi.
INFLASI
Salah satu faktor lain yang sangat berpengaruh secara fundamental dari perubahan kurs adalah tingkat inflasi . Secara teori dikatakan bahwa jika inflasi suatu negara naik maka dapat dikatakan bahwa mata uang tersebut akan cenderung melemah dan sebaliknya jika inflasi suatu negara turun maka mata uangnya akan melemah. Oleh sebab itu maka setiap negara selalu berusaha untuk menjaga tingkat inflasinya agar tetap stabil pada level yang rendah. Inflasi dapat dikatakan merupakan peningkatan harga yang terjadi secara terus menerus. Inflasi dapat disebabkan oleh 2 hal yaitu :
1. Cost push INFLATION (inflasi yang berasal dari sisi penawaran). Inflasi ini disebabkan akibat naiknya harga jual dari berbagai macam barang yang menyebabkan naiknya harga barang2 di pasar
2. Demand push INFLATION ( inflasi yang berasal dari sisi permintaan). Infalasi ini disebabkan akibat tingginya permintaan akan berbagai macam barang oleh masyarakat sehingga harga2 barang dipasar meningkat
Kebalikan dari inflasi adalah deflasi,
Adapun data-data ekonomi yang biasa mengindikasikan tekanan inflasi adalah :

  • Consumer Price Index (CPI)

Adalah data yang mengukur rata-rata perubahan harga yang dibayarkan oleh konsumen (dalam rata-rata) untuk sekelompok barang dan jasa tertentu. CPI merupakan indikator inflasi yang paling umum digunakan dan dianggap juga sebagai indikator keefektifan kebijakan pemerintah. Naiknya CPI mengindikasikan naiknya tingkat inflasi yang akan menyebabkan turunnya harga obligasi dan naiknya tingkat suku bunga. Tidak seperti indikator inflasi lainnya, yang hanya mencakup barang-barang produksi lokal, CPI juga mencakup barang-barang impor. Kelemahannya ada pada kecilnya jumlah sampel yang diambil. Para analis biasanya lebih fokus pada Core (Inti) CPI, varian dari CPI yang tidak mencakup komponen-komponen yang perubahan harganya paling tidak stabil. Core CPI dinilai lebih akurat dalam mengukur tingkat inflasi.

  • Export/ Import Prices

Meski tidak termasuk data penggerak utama market, harga-harga ekspor/impor juga berguna untuk mengindikasi tekanan inflasi dari perubahan kurs mata uang. Sebagai contoh, saat dollar menguat, harga-harga impor cenderung tertekan turun. Jika sebuah produk Jepang berharga 500 yen dan kurs saat itu satu dollar sama dengan 100 yen, harga produk tersebut dalam dollar sama dengan $5. Jika dollar menguat ke level 120 terhadap yen, maka harga produk tersebut akan turun menjadi $4.17. Meski demikian, saat dollar menguat, daya saing ekspor Amerika juga akan berkurang dan karenanya harga-harga ekpor juga akan tertekan turun karenanya. Para pakar ekonomi cenderung lebih memperhatikan data harga-harga impor yang tidak menghitung komponen minyak (Import Prices – Excl. Oil) dan harga-harga ekspor yang tidak menghitung sektor pertanian (Export Prices – Excl. Agricultural). Kedua komponen tersebut dinilai terlalu fluktuatif, mudah naik atau turun tanpa ada hubungannya dengan kurs.

  • H I C P

Kurang lebih sama dengan Consumer Prices Index (CPI). Merupakan indikator inflasi yang dipakai oleh European Central Bank (bank sentral Eropa).

  • Producer Price Index / PPI

Adalah sekumpulan indeks yang menghitung tingkat perubahan harga jual barang dan jasa pada periode waktu tertentu yang diterima oleh para produsen domestik. Singkatnya, PPI mengukur tingkat perubahan harga dari perspektif penjual. Tidak sebagus CPI dalam mengindikasi tekanan inflasi. Tetapi karena memasukkan komponen barang-barang yang sedang dalam proses produksi, PPI seringkali dapat sekaligus memperkirakan CPI.

  • KURS (exchange rate)

Kurs mata uang asing adalah nilai perbandingan atau bisa juga disebut nilai tukar antara suatu mata uang terhadap mata uang lainnya. Kurs ini biasanya digunakan sebagai indicator utama untuk melihat kekuatan ekonomi ataupun tingkat kestabilan perekonomian suatu Negara. Jika kurs mata uang Negara tersebut tidak stabil (mengalami fluktuasi yang begitu cepat) maka dapat dikatakan bahwa perekonomian. Negara tersebut tidak baik atau sedang mengalami krisis ekonomi. Untuk itu perlu bagi suatu Negara untuk memiliki mata uang yang stabil agar perekonomiann Negara tersebut dapat berjalan dengan lancer dan membentuk suatu tren pertumbuhan

Dari sejumlah data – data fundamental yang sering dirilis oleh masing-masing Negara ada juga beberapa data yang tidak memiliki pengaruh secara signifikan akan tetapi ada juga data-data yang berpengaruh sangat signifikan. Data-data yang memiliki pengaruh yang sangat signifikan tersebutlah yang dapat secar cepat membuat reaksi dipasar.
Data – Data tersebut antara lain:
Average Hourly Earnings Growth
Tingkat pertumbuhan antara tingkat rata-rata per jam dalam satu bulan dan tingkat pertumbuhan upah, sehingga dapat pula dijadikan indikator inflasi. Tingkat per tahunnya juga penting disimak untuk memberikan gambaran trend jangka panjang.
Current Account
Adalah selisih antara total ekspor dan impor barang, jasa, dan transfer. Merupakan bagian dari neraca perdagangan. Dalam perhitungannya, Current Account tidak mencakup transaksi-transaksi asset finansial dan kewajiban (hutang). Data ini merupakan indikator tren perdagangan luar negeri.
Federal Open Market Committee (FOMC)
Adalah lembaga bagian dari Federal Reserve (bank sentral Amerika) yang menetapkan kebijakan tingkat suku bunga dan kredit. FOMC merupakan lembaga pembuat kebijakan yang paling penting dalam sistem Federal Reserve. Lembaga yang saat ini diketuai oleh Alan Greenspan ini biasanya secara periodik mengadakan 8 kali pertemuan dalam
setahun untuk memutuskan apakah perlu atau tidak ada perubahan dalam kebijakan
moneter.
Gross Domestic Product (GDP)
Mengukur nilai market barang-barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara, tanpa mempertimbangkan kebangsaan perusahaan yang menghasilkan barang atau jasa tersebut. GDP terdiri dari 4 komponen utama yaitu: tingkat konsumsi, investasi, pembelian-pembelian oleh pemerintah, dan total bersih ekspor. Dirilis per kuarter, angka data ini menunjukkan persentase pertumbuhan dari kuarter
sebelumnya. Laporan GDP terbagi dalam 3 rilis: 1) advanced – rilis pertama; 2) preliminary – revisi pertama; dan 3) final – revisi kedua dan terakhir. Revisi-revisi inilah yang biasanya berdampak signifikan bagi market.
Industrial Production
Industrial Production adalah data bulanan yang mengukur total produksi dari seluruh pabrik, pertambangan, dan perusahaan pelayanan publik (listrik, air, gas, transportasi, dan lain-lain). Manufacturing Production, komponen terbesar dari data Industrial
Production, dapat diprediksi secara akurat dari total jam kerja dari laporan ketenagakerjaan. Salah satu kelemahan terbesar dari data ini adalah dimasukkannya komponen tingkat produksi pelayanan publik yang bisa sangat dipengaruhi oleh perubahan (contohnya perubahan cuaca). Peningkatan yang melebihi perkiraan dari indikator ini diartikan sebagai naiknya tingkat inflasi, yang pada gilirannya nanti akan menyebabkan turunnya harga-harga obligasi dan naiknya tingkat suku bunga.
M4 – Money Supply
Adalah data yang menghitung jumlah uang yang beredar dalam suatu perekonomian. Merupakan jumlah dari:
• Jumlah uang yang beredar dalam bentuk koin maupun kertas;
• Jumlah pinjaman dari bank, kepada perseorangan, perusahaan dan bank-bank lain;
• Jumlah uang yang dipinjam oleh pemerintah.
Para pakar ekonomi meyakini bahwa Money Supply ini adalah indikator yang bagus untuk memprediksi tingkat inflasi. Namun, korelasinya menjadi tidak dapat diandalkan sejak liberalisasi finansial pada tahun 80’an.
Non-farm Payrolls
Jumlah tenaga kerja dari sektor non pertanian yang bekerja baik full-time maupun parttime yang mendapat upah/gaji resmi dari lebih dari 500 perusahaan swasta maupun publik.
Productivity
Mengukur perubahan dalam jumlah barang dan jasa yang diproduksi per unit. Menggabungkan input buruh dan modal. Harga unit dari komponen buruh adalah indikator yang berguna untuk mengukur tekanan terhadap upah. Pentingnya produktivitas telah berkembang beberapa tahun terakhir sejak Federal Reserve telah mulai memberi perhatian pada perkembangan trend dan tingkat inflasi.
PSNCR – Public Sector Net Cash Requirement
Adalah jumlah uang yang harus dipinjam pemerintah untuk membiayai pengeluaranpengeluarannya. Sebab pemerintah seringkali mengeluarkan lebih dari yang mereka terima dari penerimaan pajak, dan satu-satunya cara untuk menambah kekurangannya adalah dari meminjam.
Retail Sales
Data ini menghitung total penerimaan toko-toko ritel, tanpa memasukkan komponen pengeluaran untuk sektor jasa di dalamnya. Data bulanan ini menunjukkan persentase perubahan dari data bulan sebelumnya. Angka negatif menunjukkan jumlah penjualan
menurun dari penjualan bulan sebelumnya.
Trade Balance
Trade balance adalah selisih bersih dari nilai ekspor dan impor barang dan jasa suatunegara dalam suatu periode tertentu.  Angka positif menunjukkan surplus (ekspor melebihi impor), negatif menunjukkan defisit (impor melebihi ekspor).
Unemployment Rate
Adalah persentase dari mereka yang aktif mencari lowongan pekerjaan namun belum mendapatkan pekerjaan. Meski merupakan data yang sangat umum dikenal (karena simple dan ada implikasinya dengan politik), Unemployment Rate relatif kurang penting bagi market karena dianggap kurang akurat (seringkali terlambat dalam memberikan sinyal perubahan tren perekonomian).
Weekly Initial Jobless Claims
Adalah rata-rata per minggu jumlah klaim baru untuk mendapatkan tunjangan pengangguran. Data ini menyediakan laporan yang up-to-date, meski juga seringkali keliru, tentang tren perekonomian, dengan peningkatan (penurunan) pada data ini berpotensi mengindikasikan terjadinya pelambatan (percepatan) tingkat pertumbuhan tenaga kerja. Karena dirilis mingguan, data ini bisa menjadi sangat sensitif dan fluktuatif. Para analis lebih memilih rata-rata pergerakan per 4 minggu dari data ini untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Sebagai contoh dari pergerakan harga yang disebabkan oleh dirilisnya data-data fundamental beserta cara membacanya maka di bawah ini disajikan data berupa data fundamental. Yang paling perlu diperhatikan dari data tersebut adalah tanggal dan waktu data tersebut dikeluarkan, Negara ayang mengeluarkan serta hasil perkiraan serta hasil actual dari data-data yang dirilis tersebut

Contoh : bila USD average earning naik maka USD menguat sehingga opsinya adalah
BUY USD = SELL EURO/USD, BUY USD/JPY
Akan tetapi jika GBP average earning naik maka USD melemah sehingga
opsinya adalah BUY GBP. SELL USD/JPY

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: